Sabtu, Januari 05, 2008

Soeharto

Ijo Royo-royo...
ijo royo-royo
Anak Setan Perut Gendut SUHARTO
Ijo Royo-royo...
ijo royo-royo...
Anak Setan Mata Belok HABIBIE
Ijo Royo-royo...
ijo royo-royo...
Anak Setan tukang Tembak WIRANTO

Habibie Punya Lakon... Wiranto yang di kasih...
Prabowo Marah-marah
Datang Rakyat BUBARRR...

Diatas kursi roda yang bergulir mengintari sebuah rumah Sakit, terlihat sosoknya kian lemah namun senyumnya tetap ramah... sesekali dengan senyum khasnya orang itu melambaikan tangan kepada wartawan dan massa yang berdesakan ingin melihat sososk tuanya. Dia adalah seorang kakek yang kesepian dalam dekade 10 tahun terakhir... hujatan, cacian, kutukan, sumpah serapah dan tuntutan setiap hari terus bergulir pada Kakek yang makin renta ini... seolah Dia adalah sosok yang tidak layak untuk menikmati masa tuanya dengan tenang.

Sosok itulah Suharto, mantan presiden RI yang sudah 32 tahun menjadi presiden dan dielu-elukan sebagai Bapak Pembangunan Nasional. namun kejayaannya harus berakhir seiring tekanan dari masyarakat yang begitu kuat agar Suharto mengundurkan diri dari presiden.
sebuah kisah yang oleh Dewi Ambar Sari - Lazuardi Adi Sage disebut dengan sebuah pepatah "Habis Manis Sepah Dibuang".

"siapapun mengakui, dibawah kepemimpinan Pak Harto-lah bangsa Indonesia pernah mengalami kemajuan yang signifikan... namun ibarat pepatah habis manis sepah dibuang. begitulah nasib Pak Harto.. dan ironisnya lagi, orang tua yang sudah tidak berdaya ini dijadikan konsumsi politik" begitulah antara lain potongan tulisan dalam buku yang berjudul "Pak Harto, Habis manis sepah dibuang"

Dan kini sejak tiga hari yang lalu tanggal 3 januari 2008, kondisi kesehatan Suharto makin lemah dan kritis akibat sakit yang dideritanya. desakan supaya masyarakat dan bangsa memaafkan Suharto semakin gencar dikumandangkan oleh tokoh-tokoh masyarakat. Partai Golkar tak mau ketinggalan tanggal 6 januari 2008, melalui Muladi, partai Golkar mendesak pemerintah untuk tidak menindaklajuti proses hukum Suharto mengingat jasa-jasanya selama 32 tahun membangun Indonesia dan kondisi Suharto pada saat ini yang tidak memungkinkan lagi diproses secara hukum. desakan untuk memaafkan Suharto juga di sambut dibeberapa daerah lewat doa bersama yang dilakukan masyakat Solo, yang khusus mendoakan Suharto.

Apakah Suharto benar-benar tidak bisa dimaafkan atas segala jasanya? apakah kita bansa yang tidak beragama sehingga untuk memberi maaf kepada seorang kakek tua yang renta saja kita begitu sulit? dimana rasa kemanusiaan kita?

Korupsi
Transparency International, lembaga internasional yang mengadakan riset tentang korupsi di dunia, menyatakan bahwa mantan presiden Suharto adalah koruptor yang paling kaya di dunia. Hal itu dilaporkan dalam Global Corruption Report yang baru-baru ini diumumkan oleh lembaga internasional tersebut, dan diberitakan oleh berbagai kantor-berita, radio dan suratkabar luarnegeri. Menurut laporan tersebut, kekayaan Suharto dari hasil korupsi mencapai US$ 15-35 milyar, dan sebagian besar di antaranya diduga kuat hasil jarahan selama 32 tahun berkuasa sejak 1967. laporan Transparency International tersebut dirilis dalam majalah TIME -24 mei 1999.

Suharto: US$15-US$35 miliar (Indonesia, 1967-98), Ferdinand Marcos: $5-10 miliar (Philippina, 1972-86), Mobutu Sese Seko: $5 miliar (Zaire, 1965-97), Sani Abacha: $2-5 miliar (Nigeria, 1993-98) , Slobodan Milosevic: $1 miliar (Yugoslavia, 1989-2000), J-C Duvalier: $300-800 juta (Haiti, 1971-86), Alberto Fujimori: $600 juta (Peru, 1990-2000), Pavlo Lazarenko: $114-200 juta (Ukraina, 1996-97, ) Arnoldo Aleman: $100 juta (Nicaragua, 1997-2002), Joseph Estrada: $78-80 juta (Philippina, 1998-2001).

Jumlah Kekayaan Suharto

SEKTOR

ASSET DAN TUNAI

YANG DIPEROLEH KELUARGA SELAMA 30 TAHUN LEBIH

Minyak dan gas

$ 17.000.000.000

Kehutanan dan perkebunan

$ 10.000.000.000

Bunga deposito

$ 9.000.000.000

Petrokimia

$ 6.500.000.000

Pertambangan

$ 5.800.000.000

Perbankan dan jasa keuangan

$ 5.000.000.000

Properti di Indonesia

$ 4.000.000.000

Import pangan

$ 3.600.000.000

TV, Radio, Penerbitan

$ 2.800.000.000

Telekomunikasi

$ 2.500.000.000

Hotel dan turisme

$ 2.200.000.000

Jalan tol

$ 1.500.000.000

Perusahaan penerbangan dan jasa angkasa

$ 1.000.000.000

Produksi dan distribusi tembakau

$ 1.000.000.000

Kendaraan

$ 460.000.000

Penghasil daya

$ 450.000.000

Manufaktur

$ 350.000.000

Properti di luar negeri

$ 80.000.000

T O T A L

$ 73.240.000.000

KEKAYAAN SAAT INI

$ 15.000.000.000

Sumber: TIME, konsultasi dengan lima ahli independen

Menurut Transparency International kekayaan Suharto antara sekitar US$ 15-35 miliar (atau sekitar Rp 127,5 - Rp 297,5 triliun dengan kurs Rp 8.500). sejumlah angka yang fantastis. mecengangkan!

bagaimanapun caranya, JELAS bahwa kekayaan yang begitu besarnya tidak mungkin didapat dari kerja keras Suharto selama menjadi Presiden dengan jujur, atau dari usahanya mengumpulkan gajinya selama 32 tahun menjabat presiden. kekayaan tersebut jelas didapat dari berbagai suber-sumber perusahaan yang korup yang tidak hanya dilakukan oleh Suharto sendiri tetapi juga oleh anak-anaknya Tutut, Sigit, Bambang, dan Tommy, dengan kerjasama banyak pihak (kroni-kroninya).

Nama

Kekayaan ($)

Perusahaan

Siti Hardiyanti Rukmana "Tutut"

700 juta

Citra Lamtoro Gung Group

Bambang Trihatmojo

3 milyar

Bimantara Citra

Hutomo Mandala Putra "Tommy"

800 juta

Humpuss Group

Sigit Harjoyudanto

800 juta

Humpuss Group

Siti Hutami Endang Adiningsih "Mamiek"

30 juta

Manggala Krida Yudha

Siti Hediati Hariyadi "Titiek"

75 juta

Banyak

Sumber: TIME, konsultasi dengan lima ahli independen

Pelanggar HAM
Barangkali, tidak sedikit orang yang terkejut atau tidak setuju, bahkan marah (!), ketika mendengar ungkapan bahwa Suharto adalah penjahat terbesar bangsa kita. Ini bisa dimengerti, karena nama Suharto pernah - secara luar biasa !- disanjung-sanjung , atau dielu-elukan, atau “dihormati” selama 32 tahun rezim militer Orde Baru. Padahal, kalau ditilik secara serius, julukan penjahat terbesar untuk Suharto adalah sudah sepantasnya, atau sudah selayaknya, dan bahkan sudah semestinya. Ini bukanlah ungkapan yang “kebablasan” atau sekadar kata-kata yang “sembarangan”. Di kemudian hari, dalam sejarah Indonesia, nama Suharto harus ditulis seadil-adilnya dan menurut kebenaran, sesuai dengan besarnya kejahatan dan pengkhianatannya terhadap kepentingan rakyat dan revolusi.

Sekarang makin jelaslah bagi banyak orang bahwa Suharto bukanlah “penyelamat rakyat Indonesia”, bukan “bapak pembangunan” dan bukan pula “pahlawan”, dan bukan juga “pengayom bangsa” seperti yang digembar-gemborkan dengan gegap-gempita selama puluhan tahun. Sebaliknya, makin banyak bukti bahwa Suharto adalah pengkhianat besar terhadap pemimpin bangsa Bung Karno, karena bersekutu (pada waktu itu) dengan kekuatan asing (terutama AS dan Inggris) untuk menghancurkan kekuatan revolusioner rakyat Indonesia. Di samping itu, cukup banyak bukti (dan banyak saksi) yang menunjukkan bahwa Suharto adalah pelanggar besar HAM, dengan dibantainya 3 juta orang dalam tahun 1965 dan di-tapol-kannya ratusan ribu orang dalam jangka waktu yang lama sekali (lih. Catatan A Umar Said, 2004).

Lalu...
Kembali kepada pertanyaan diawal, apakah kita tidak memiliki 'hati' untuk bisa memaafkan Suharto, karena jasa-jasa beliau yang dianggap cukup besar?

atau memang sudah selayaknya Suharto harus seret kepengadilan atas segala kejahatan HAM, manipulasi, pembodohan, korupsi, dan penyelewengan kekuasaan lainnya selama 32 tahun berkuasa?

seperti yang biasa di teriakan oleh jutaan mahasiswa indonesia era 1997:

tiga puluh dua tahun rakyat di bodohi...
tiga puluh dua tahun rakyat di bohongi...
lawan...lawan..lawan..nan menang hancurkan rezim penindas rakyat...
gantung... gantung... gantung suharto.. gantung suharto ditugu monas...

Tidak ada komentar: